Demokrasi atau Mati
Demokrasi atau Mati
( Oleh: Nur
Alifah )
Apa yang membuat Indonesia sampai hari ini menjadi sebuah Negeri yang memperhitungkan aspirasi rakyatnya dalam pembangunan? Adalah demokrasi ( pemerintahan atas asas kerakyatan ), dimana setiap Warga Negara seharusnya tanpa terkecuali berbondong-bondong memikul semangat kepedulian atas nasi barah bangsa yang juga akan menjadi nasibnya. Prinsip demokrasi tidak dapat dilaksan akan hanya oleh satu dua orang atau kelompok tertentu, tidak terjadi dalam hitunan minggu ke mudian berhasil, dan tidak terlepas dari sikap takpeduli. Demokrasi tidak semudah kita pergi kewarung kopi, duduk, pesan,
ngopi sambil diskusi, janganlupa bayar, kemudian pergi.
Ketika berbicara demokrasi, baiklah lupakan jika kata “demokrasi” terlalu melangit untuk di diskusikan kali ini. Arah bahasan ini sebenarnya berawal darikegelisahan sebagian mahasiswa
–kurang aktivitas- yang
kebetulan dua pecan ini sedang mempersiapkan
“pestademokrasi” kampus STIQ An-Nur. Bahwasanya semangat untukmewujudkan praktek demokrasi
di kampus ini sedang dalam status “waspada”, bahkan jika tidak terlalu kejam mari kita gunakan kata “sekarat”. Kena pada demikian? Sepekan menjelang Pemilwa atau pemilihan presidenm ahasiswa, greget dalam parti sipasi masih belum semeriah tahun lalu. Belum tertempel
poster kampanye calon presiden mahasiswa disana sini. Look, ini pembahasan ringan dan tentu saja harus menarik. Kampus adalah sebuah tempat yang dihuni oleh sekelompok mahasiswa, dan sebuah kelompok dengan tujuan tertentu idealnya memiliki seorang pemimpin. Ada masyarakat, ada pemimpin, ada tujuan bersama.
Kemungkinan ada beberapa factor dibalik loyonya praktek belajar demokrasi disini. Mulai darimahasiswa yang sebenarnya berpotensi tetapi kurang PeDe (percayadiri) untuk mencalonkan dirimenj adipresi denma mahasiswa. Ada, mahasiswa yang bahkan tidak peduli mau ada presiden atau tidak ( belajar demokrasi tidak begitu penting. Tugas kita dikampus itu yakuliah, ngerjaintugas ). Kemudian mahasiswa yang hampir setiap hari sibuk bergerombol didekat TU demi sinyal wifi dan apdet status facebook, mahasiswa yang rajin keperpus untuk meminjam buku demi deadline makalah. Indikasi diatas membuktikan bahwa jujur saja, kampus kita minim kompetisi dan sayangnya hal itu mempengaruhi terhambatnya kita dalam belajar berdemokrasi. Tapi banyak juga yang tidak demikian, artinya tidak semuanya.
Ayolah yang katanya agent of change, kita bangun, bergeraklah agar terlihat hidup, kita belajar berpartisipasi dalam memeriahkan “pesta kecil demokrasi” di kampus tercinta ini. Kita harus saling bicara, memberimasukan positif untuk menjadi yang lebih baik demi maju bersama. Karena berawal dari hal seperti inilah harapan 20 tahun kedepan Indonesia di kawal oleh generasi-generasi yang peduli demokrasi, cakap intelektual dan pastinya pandai mengaji. Untuk yang terlanjur tidak peduli, paling tidak kita coba ubah kebiasaan duduk bergerombol demi wifi untuk memperkaya informasi tidak sekedar bukaefbi, untuk diskusi,
agar tercipta kompetisi.
Kemudian untuk yang
ingin mencalonkan diri sebagai presiden mahasiswa yang baru, percaya diri! Niatkan mengabdi! (alasantri). Terakhir,
untuk masyarakat mahasiswa STIQ An Nur tanpa terkecuali, Mari Berpartisipasi,
Hidupkan kembali demokrasi!
“Aku begerak, maka aku ada.”
Salam
Pergerakan!
pun, demi Islam ini.


Komentar
Posting Komentar